Jumat, 28 Maret 2014

Minder, Kurang Percaya Diri



Rasa minder tidak bisa hilang dengan cara memaksakan diri untuk percaya diri. Karena sifat dari rasa minder adalah semakin dilawan, maka dia semakin kuat.



Jika Anda bertanya, "Bagaimana cara paling mudah untuk berubah?"

Maka kami akan jawab, "hipnoterapi..!"

Karena hanya dengan hipnoterapi, kami bisa menjangkau sumber rasa takut Anda, yaitu pikiran bawah sadar. Dengan hipnoterapi, kami bisa meng-uninstall program pikiran yang menyebabkan Anda minder selama ini. Kemudian menggantinya dengan Mindset Percaya Diri.

Minder, gugup, takut atau tidak percaya diri adalah perasaan alami manusia yang diberikan Tuhan agar kita tidak terlalu kelewat percaya diri dan akhirnya sombong. Selain orang gila dan orang mabok, setiap orang waras pasti memiliki rasa minder, hanya saja konteks dan kadarnya berbeda-beda. Bahkan kami pun punya rasa minder apabila diharuskan tampil sebagai orang lain. Misalnya: kami akan sangat minder dan malu apabila harus memakai pakaian badut ketika menemui klien atau memberikan pelatihan hipnosis di depan puluhan murid kami.

Selama kita melakukan hal yang benar dan halal, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa minder. Kalaupun kita belum mampu melakukan sesuatu, sebagai manusia kita bisa belajar dulu. Masalahnya, beberapa orang ternyata meletakkan rasa minder pada tempat yang salah, sehingga kehidupan dan kesuksesannya terhambat oleh rasa minder itu.


Gejala-gejala yang termasuk "Minder"

Seorang yang minder, biasanya punya pola perilaku seperti berikut:
  • Merasa diri rendah, bodoh, tidak mampu, tidak pantas, dsb.
  • Kesulitan dalam bergaul, susah mendapatkan teman baru.
  • Merasa kurang nyaman jika ada seseorang yang mendekatinya.
  • Tidak berani memulai percakapan atau perkenalan dengan orang lain.
  • Malu mengungkapkan ide atau pendapatnya kepada orang lain.
  • Demam panggung, takut berbicara di depan umum (public speaking phobia).
  • Ketika masuk dalam lingkungan baru, dia cemas dan takut kalau orang-orang di lingkungan baru tersebut menolak atau tidak menyukainya.
  • Suka menyendiri karena merasa tidak ada yang mau berteman.
  • Tegang atau grogi ketika berhadapan dengan orang lain yang baru dikenal sehingga tingkah lakunya terlihat kaku.
  • Merasa bahwa orang lain selalu memperhatikan kelemahannya.
  • Menganggap orang lain lebih hebat daripada dirinya.
  • Membandingkan kelemahan dirinya dengan kelemahan orang lain.
  • Sensitif terhadap perkataan orang lain, meskipun hanya bercanda.
  • Fokus pada kelemahan diri. Orang minder selalu punya seribu alasan untuk menyalahkan atau meremehkan dirinya sendiri.
  • Sering menolak apabila diajak ke tempat-tempat yang banyak orang.
  • Tidak berani menerima tanggung jawab yang besar karena takut gagal.
  • Kecewa pada diri sendiri karena tidak percaya diri, dan marah kepada orang lain yang tidak memperhatikan atau menghargainya.
  • Sering murung, mudah merasa sedih, dan lelah.
  • Kurang semangat dalam menjalani aktivitas dan mudah menyerah.
  • Sering melamun, dan mungkin masih banyak lagi.



Penyebab Minder

Setiap manusia yang lahir di dunia hanya membawa dua rasa takut alami, yaitu takut pada ketinggian dan suara keras. Jika Anda sekarang punya rasa takut, malu, grogi, atau minder selain kedua rasa takut tersebut, maka dipastikan rasa takut yang Anda miliki bukan karena secara genetis Anda punya sifat itu. Rasa minder yang Anda alami sekarang adalah pengaruh dari lingkungan Anda.

Dari hasil wawancara kami kepada klien yang mengalami masalah kepercayaan diri, dapat kami rangkum beberapa penyebab minder diantaranya:
  • Pengaruh lingkungan. Seorang bisa menjadi minder apabila selalu dilarang, disalahkan, tidak dipercaya, diremehkan oleh lingkungannya.
  • Sering diremehkan dan dikucilkan oleh teman sejawat.
  • Pola asuh orang tua yang sering melarang dan membatasi kegiatan anak.
  • Orang tua yang selalu memarahi kesalahan anak, tapi tidak pernah memberi penghargaan apabila anak melakukan hal yang positif.
  • Kurang kasih sayang, penghargaan, atau pujian dari keluarga.
  • Tertular sifat orang tua atau keluarga yang minder.
  • Trauma kegagalan di masa lalu.
  • Trauma dipermalukan atau dihina di depan umum.
  • Merasa diri tidak berharga lagi karena pernah dilecehkan secara seksual.
  • Merasa bentuk fisik tidak sempurna. Padahal, berapa banyak tokoh besar yang tetap percaya diri meskipun secara fisik kurang menarik?
  • Merasa berpendidikan rendah. Padahal tidak dibutuhkan pendidikan tinggi untuk menjadi berhasil. Banyak pengusaha yang kaya raya meskipun tidak pernah kuliah dan sekolahnya awut-awutan.

Masalah minder bukan hanya dialami orang biasa yang dalam kesehariannya jelas-jelas tampak minder. Beberapa klien kami adalah dosen dan dokter yang merasa tidak percaya diri ketika menghadapi mahasiswa dan pasien. Mereka berusaha menyembunyikan dan melawan rasa minder tersebut, tapi malah semakin membuat segala aktivitasnya menjadi tidak nyaman.


Mereka juga sudah berusaha mempersiapkan diri sedemikian rupa apabila akan tampil di depan mahasiswa dan pasien, tapi rasa minder tetap ada. Akhirnya, dalam hipnoterapi kami menemukan beberapa penyebab rasa minder tersebut. Setelah kami menghapus penyebab rasa minder tersebut dari pikiran bawah sadar, seketika rasa percaya diri muncul.


Susah Tidur (Insomnia)



Insomnia adalah kesulitan untuk tidur atau tidak dapat tidur dengan nyenyak. Rata-rata setiap orang pernah mengalami insomnia sekali dalam hidupnya, yaitu saat sedang menghadapi suatu masalah serius. Insomnia dapat menyerang semua golongan usia.

Meskipun demikian, angka kejadian insomnia akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini disebabkan oleh stress yang sering menghinggapi orang yang berusia lebih tua.

Insomnia merupakan sebuah simptom atau gejala. Artinya apabila kita mengalami insomnia, kemungkinan ada masalah emosional yang belum terselesaikan. Masalah emosional itu bisa berupa kecemasan, stress, ketakutan, depresi, marah, sakit hati, kesedihan atau masalah emosi lainnya. Namun banyak penderita insomnia yang tidak menyadari masalah emosi apa yang menyebabkan dia tidak bisa tidur. Sebab itulah banyak dari penderita insomnia lebih memilih meminum obat tidur dibanding mencari bantuan psikoterapis.

 Masalah insomnia, meskipun tampaknya sederhana, apabila tidak segera ditangani bisa menjadi masalah psikologis yang parah dan mengancam kesehatan mental serta fisik seseorang. Masalah-masalah yang sering timbul karena insomnia adalah:

Menyebabkan kecemasan, stress, dan depresi karena tidak mampu tidur. Ini adalah reaksi berantai yang tidak pernah usai. Masalah emosi menyebabkan insomnia dan insomnia menyebabkan masalah emosi yang lebih parah, begitu seterusnya...
·          Gangguan konsentrasi dan kesulitan dalam mengingat.
·         Terganggunya kesehatan fisik. Misalnya timbul sakit kepala, migren, kulit di bawah mata tampak kehitaman, mudah lelah, badan lemah dan mudah tertular penyakit.
·         Ketergantungan pada obat tidur, obat penenang, alkohol, bahkan narkoba.
Menggunakan obat tidur atau obat penenang untuk mengatasi insomnia adalah keputusan yang beresiko tinggi. Menggunakan sedative (obat tidur) secara jangka panjang atau dengan dosis yang tinggi untuk mengatasi insomnia dapat memperburuk masalah. Antihistamine (obat penenang) juga dapat mengarah pada kesulitan yang sama. Menggunakan antihistamine terus menerus juga dapat mengarah pada kerusakan memori.
Sedative tidak dapat menghasilkan tidur yang alami. Malahan akan dapat mengarah pada toleransi atau ketergantungan pada obat-obatan. Apabila pada tingkat dosis yang sama tidak dapat menghasilkan tidur, kita akan mengkonsumsi dosis yang lebih tinggi. Dosis yang tinggi akan mengarah pada ketergantungan dan efek samping negatif. Menghentikan konsumsi obat tidur dapat menyebabkan kembalinya insomnia yang lebih parah.

Insomnia adalah gejala dari masalah emosional, seperti stress, depresi, khawatir, trauma, phobia, dan sebagainya. Insomnia tidak akan sembuh hanya dengan meminum obat tidur. Sebelum masalah emosi yang melandasi insomnia belum diatasi, insomnia akan terus timbul.


Perkembangan psikoterapi sudah sangat pesat. Insomnia yang sudah diderita selama bertahun-tahun pun bisa disembuhkan dalam waktu sangat singkat. Dengan menghilangkan masalah emosional yang ada pada pikiran bawah sadar, maka insomnia akan dengan sendirinya hilang secara cepat. Hipnotis dapat menjangkau pikiran bawah sadar, tempat dimana masalah emosi itu berproses.

Penyakit Gagap


Gagap merupakan gangguan bicara, dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, sampai dengan ketidakmampuan mengeluarkan kata-kata sama sekali.
Gagap biasanya berhubungan dengan masalah kepercayaan diri dan mudah gugup. Apabila seorang penderita gagap berhadapan dengan situasi atau seseorang yang membuatnya gugup, maka reaksi pada tubuh yang sering terjadi adalah ketegangan yang terlihat saat berbicara yang dibarengi oleh gerakan-gerakan wajah, gerakan kaki, tangan, dan sebagainya.

Jenis-jenis gagap menurut fasenya.
Gagap Perkembangan - Terjadi biasanya pada usia 2-4 tahun. Kondisi ini tergolong wajar, karena merupakan rangkaian proses perkembangan bicara sang anak. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidaksinkronan emosi anak dengan pengaturan alat bicara saat berbicara. Gagap perkembangan biasanya akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak
Gagap Sementara - Anak berusia sekitar 5-8 tahun juga dapat mengalami gagap ini, karena faktor psikologis dari lingkungan, misal kecemasan, kepanikan, ketakutan. Jenis gagap ini akan lenyap sendiri meskipun tanpa terapi tertentu. Sebagai orang tua, kita hanya perlu bersabar dan jangan memarahi anak ketika menunjukkan gejala gagap.
Gagap Menetap - Problem gagap ini biasanya dari usia 8 tahun sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut. Bila Sementara ini tidak disembuhkan tuntas, biasanya akan berlanjut sampai dewasa/tua. Penyebab masalahnya biasanya disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya stress, kecemasan berlebihan, takut salah bicara, merasa rendah diri, merasa suaranya kurang enak didengar, merasa tidak percaya diri, dll.
Penyebab Gagap
Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Penyebab fisik yaitu kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah. Penyebab psikologis yaitu ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, stress mental karena sesuatu yang dirasakan tidak dapat dilakukannya.


Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi "kebiasaan" sampai dewasa

Trauma (Pengalaman Buruk)


Setiap orang pasti pernah punya pengalaman traumatis, seperti ditinggal oleh orang yang dicintai, menderita penyakit serius, perceraian, kecelakaan, pelecehan, dipermalukan, melihat kejadian mengerikan dan sebagainya.

Pada saat itu, kita mungkin akan merasa sangat gelisah atau mengalami "guncangan perasaan" yang membuat kita tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari. Tetapi biasanya guncangan perasaan itu akan berlalu, dan kehidupan menjadi lebih normal kembali.

Contoh kasus trauma yang hilang dengan sendirinya, misalnya Anda mengalami kecelakaan mobil. Mungkin Anda menjadi takut menyetir atau sangat berhati-hati saat menyetir. Namun setelah beberapa minggu berlalu, Anda sudah kebut-kebutan di jalan lagi. Inilah trauma sementara yang sering kita alami.

Namun bagi beberapa orang, "guncangan mental" itu tidak pernah berlalu. Selalu dihantui oleh perasaan mencekam dan hidup tidak pernah tenang, seolah kejadian traumatis terus menerus terjadi. Seseorang yang merasa seperti ini mungkin menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau disebut oleh orang awam sebagai "trauma", sebuah gangguan psikologis yang menyebabkan penderitanya tidak bisa merasakan kedamaian.

Seseorang mengembangkan trauma adalah akibat respon terhadap sebuah kejadian yang mengerikan, baik yang dialami sendiri atau dialami orang lain yang disaksikan. Pengalaman tersebut menyebabkan seseorang merasakan takut yang sangat kuat, atau perasaan tidak berdaya menghadapinya. Tidak semua orang yang mendapat pengalaman traumatis akan mengembangkan trauma. Hanya sekitar 20% saja yang mengembangkan trauma.

Gejala trauma dibagi menjadi empat kategori. Seseorang yang mendapat pengalaman traumatis akan memperlihatkan beberapa gejala dan kombinasinya. Gejala-gejala yaitu:
-      Memutar kembali peristiwa traumatis seperti. Seseorang yang mengalami trauma sering merasa peristiwanya terulang kembali. Hal ini biasanya disebut flashback, atau menghidupkan kembali peristiwa. Orang ini mungkin mempunyai gambaran mental di kepalanya tentang trauma, mengalami mimpi buruk, atau bahkan mungkin mengalami halusinasi tentang trauma. Gejala ini sering menyebabkan seseorang kehilangan ”saat sekarang” dan bereaksi seolah-olah mereka mengalaminya seperti awal trauma terjadi. Contoh, beberapa tahun kemudian seorang anak akibat penganiayaan mungkin akan bersembunyi gemetaran di closet bila merasa ketakutan, meskipun ketakutan itu tidak berhubungan dengan penganiayaan.
-      Penghindaran. Seseorang yang mengalami trauma berusaha untuk menghindari segala sesuatu yang mengingatkan mereka kembali pada kejadian traumatis. Mereka mungkin akan menghindari orang-orang, tempat, benda-benda yang mengingatkan, termasuk juga bersikap dingin untuk menghindari rasa sakit, perasaan yang berlebihan. Membekukan pikiran dan perasaan akibat trauma disebut juga ”disasociation” dan merupakan karakteristik trauma.
-      Pelampiasan. Seseorang yang menderita trauma kadang mengkonsumsi obat-obatan penenang atau alkohol atau rokok untuk menghindari ingatan-ingatan dan perasaan yang berhubungan dengan trauma. Dengan mengkonsumsi obat-obatan penenang atau alkohol atau rokok memang mereka dapat merasa tenang, tetapi hal itu sifatnya hanya sementara.
-      Pemicu. Gejala-gejala pemicu psikologis dan fisiologis sangat berbeda-beda pada orang-orang dengan trauma. Mereka mungkin sangat cemas, mudah gelisah, mudah tersinggung atau marah, dan mungkin mengalami sulit tidur seperti insomnia, atau mimpi buruk. Mereka akan terlihat terus menerus waspada dan mengalami kesulitan konsentrasi. Sering orang dengan trauma akan mengalami panic attack yang dibarengi dengan nafas yang pendek dan sakit di bagian dada.
-      Perasaan bersalahh. Sering seseorang merasa bersalah tentang apa yang telah terjadi dan mereka sala meyakini bahwa mereka pantas untuk disalahkan atau pantas mendapatkan hukuman.
Setiap orang dapat mengembangkan trauma, tidak peduli dia laki, perempuan, anak-anak, tua dan muda. Korban trauma yang berhubungan dengan serangan fisik dan seksual menghadapi resiko yang besar berkembang menjadi trauma. Wanita dua kali lebih besar mengembangkan trauma dari pada laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena fakta bahwa wanita lebih emosional dibanding pria. Peristiwa yang berpotensi menyebabkan trauma antara lain:

·         Menyaksikan sebuah peristiwa kekerasan atau mengerikan, atau berulang-ulang menghadapi situasi yang mengerikan.
·         Kekerasan dalam rumah tangga atau pasangan intim
·         Perkosaan atau pelecehan seksual
·         Serangan tiba-tiba atau pembajakan
·         Perlakuan kekerasan di tempat umum, di sekolah, atau di tempat kerja.
·         Kecelakaan mobil atau kebakaran
·         Bencana alam, seperti gempa bumi
·         Kejadian kecelakaan besar, seperti kecelakaan pesawat terbang atau serangan teroris
·         Bencana yang disebabkan oleh kesalahan manusia, seperti kecelakaan industri.
·         Veteran perang atau korban perang sipil.
·         Kematian mendadak salah satu anggota keluarga atau orang yang dicintai.
·         Orang yang ditinggal atau dihianati oleh orang dekat.

·         Dan seterusnya...

Kecemasan Berlebih

perilaku kecemasan yang sering timbul dan menetap Kecemasan atau Anxiety Disorder adalah kebiasaan yang ditandai oleh sebuah pada banyak aktifitas atau kejadian yang tidak dicemaskan orang lain pada umumnya.

Anxiety disorder merupakan suatu keadaan pikiran dan perasaan yang ditandai adanya rasa cemas yang berlebihan. Contoh seorang pelajar sering cemas seputar test, yang selalu cemas akan gagal meskipun dalam latihan dia mendapat nilai yang baik, seorang yang takut jatuh miskin meskipun bisnisnya lancar dan tabungannya banyak dan sebagainya.

Seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengontrol rasa cemasnya. Situasi kehidupan yang penuh stress, berada di lingkungan stress, bisa menyumbang kecemasan. Gangguan ini bisa dimulai kapan saja dalam kehidupan, termasuk saat masih kecil. Banyak orang melaporkan bahwa mereka mengalaminya sudah lama sejauh yang dapat mereka ingat. kecemasan terjadi lebih sering pada wanita daripada pria.

Gejala Anxiety Disorder antara lain: Kegelisahan, Mudah merasa lelah, Sulit berkonsentrasi, Mudah marah, Ketegangan pada otot, gemetar, sakit kepala, Kesulitan tidur, Keringat yang berlebihan, dan sesak nafas.

Orang yang mengalami kecemasan bisa berkembang menjadi panic disorder, depresi, atau menjadi Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Akan menjadi masalah yang lebih parah apabila seseorang penderita kecemasan mencoba mengatasinya dengan narkoba atau alkohol untuk menghilangkan kecemasan.